National Geographic
Nyalindung, Burangrang
Lokasi SMA 2 Cimahi
Wednesday, February 11, 2009
Monday, December 22, 2008
Rekor-rekor Everest Red:Musa
Yang utama diingat orang, tentu, Everest adalah gunung tertinggi di
jagat raya. Tingginya mencapai 8.850 meter di atas permukaan laut.
Puncak Everest adalah satu di antara Tujuh Puncak Utama Dunia.
Letak Everest tak lazim, berada di dua wilayah negara berbeda: Nepal
dan Tibet. Puncak Everest, karena letaknya itu, menandai perbatasan
Nepal dan Tibet. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau `dahi
langit'. Orang Tibet menjulukinya Chomolangma atau `Bunda Semesta'.
Everet ditemukan oleh Sir George Everest pada 1841. Surveyor asal
Inggris itulah yang pertama menemukan lokasi Everest. Nama Everest
sendiri digagas Sir Andrew Waugh, penerusnya.
Sementara orang pertama yang menyatakan Everest sebagai gunung
tertinggi di dunia adalah Radhanath Sikdar, juru ukur dan pakar
matematika asal Bengal. Ia melakukannya lewat perhitungan
trigonometrik pada 1852 dengan menggunakan teodolit di India dari
jarak 150 mil.
Ketika pertama kali diukur pada 1856, Mount Everest tercatat setinggi
8.839 meter di atas permukaan laut. Lalu, direvisi lagi menjadi 8.840
meter atau 29.002 kaki. Tambahan 0,6 meter atau 2 kaki itu
menunjukkan, di masa itu ketinggian yang tepat akan dianggap sebagai
perkiraan yang dibulatkan.
Sementara perkiraan umum yang digunakan saat ini diperoleh melalui
bacaan Sistem Posisi Global (GPS). Gunung Himalaya, misalnya, masih
terus bertambah tinggi akibat pergerakan lempeng tektonik kawasan itu.
Siapa penakluk pertama puncak Everest?
Sejarah mencatat ada dua orang yang pada 29 Mei 1953 melakukan
pendakian. Keduanya adalah Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.
Jadi, pada 29 Mei 2008 yang baru saja lewat, prestasi itu genap
berusia 55 tahun.
Sejak itu, orang-orang sibuk mengukir prestasi terkait Everest. Begitu
banyak manusia yang tercatat sebagai `pertama'.
Junko Tabei asal Jepang, misalnya, adalah pendaki wanita pertama yang
mendaki pada 15 Mei 1975. Sedangkan pendakian tanpa oksigen pertama
dilakukan Reinhold Messner dan Peter Habeler pada 8 Mei 1978.
Pendakian menuju puncak Everest biasanya membutuhkan waktu lebih dari
20 jam untuk orang normal. Tapi, beberapa dari mereka mencatatkan
waktu terbaik yang hingga kini belum terpecahkan rekornya.
Babu Chhiri Sherpa adalah pendaki tercepat dari sisi Selatan. Catatan
waktunya 16 jam 56 menit pada 21 Mei 2000. Dari sisi Utara, rekor
dipegang Hans Kammerlander pada 24 Mei 1996. Ia membukukan waktu 16
jam 45 menit.
Di sisi lain, Temba Tsheri tercatat sebagai pendaki termuda. Ia
mendaki pada 22 Mei 2001, ketika usianya baru 15 tahun. Sebaliknya,
Sherman Bull yang berusia 64 tahun tercatat sebagai pendaki tertua.
Yang juga menakjubkan adalah Erik Weihenmeyer. Ia adalah tuna netra
pertama sukses mendaki Everest pada 25 Mei 2001.
Tahun terbaik dalam sejarah pendakian Everest adalah 1993. Ada 129
pendaki mencapai puncaknya. Tahun terburuk Everest adalah 1996
menyusul kematian 15 pendakinya.
Total, pada akhir musim mendaki 2007, tercatat 3.679 pendakian menuju
puncak dilakukan oleh 2.436 orang. Jumlah korban tewas mencapai 210
orang. Sebagian di antara korban ditinggalkan di lokasi akibat
kesulitan evakuasi.
Pendaki Everest bervariasi, mulai yang profesional sampai pemula yang
menyewa pembina untuk memandu. Ini berarti, para pendaki adalah sumber
devisa yang cukup besar bagi Nepal dan Tibet.
Pemerintah kedua negara menetapkan turis pendaki harus merogoh kocek
US$ 25.000 per kepala untuk izin mendaki. Izin ini adalah ketentuan
yang wajib dilengkapi para pendaki, selain hasil tes kesehatan dan
kelengkapan mendaki.
Waktu pendakian terbaik adalah Mei atau sebelum musim panas muson,
ketika angin bertiup ke arah Utara sehingga kecepatan angin di gunung
berkurang. Calon pendaki sebaiknya berkonsultasi dulu kepada para
pendaki ahli yang ada di lokasi. Waspadalah terhadap longsor es,
penyebab kematian terbesar di Everest.
wah..wah..kapan yah bisa kesanah??
hehe...
jagat raya. Tingginya mencapai 8.850 meter di atas permukaan laut.
Puncak Everest adalah satu di antara Tujuh Puncak Utama Dunia.
Letak Everest tak lazim, berada di dua wilayah negara berbeda: Nepal
dan Tibet. Puncak Everest, karena letaknya itu, menandai perbatasan
Nepal dan Tibet. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau `dahi
langit'. Orang Tibet menjulukinya Chomolangma atau `Bunda Semesta'.
Everet ditemukan oleh Sir George Everest pada 1841. Surveyor asal
Inggris itulah yang pertama menemukan lokasi Everest. Nama Everest
sendiri digagas Sir Andrew Waugh, penerusnya.
Sementara orang pertama yang menyatakan Everest sebagai gunung
tertinggi di dunia adalah Radhanath Sikdar, juru ukur dan pakar
matematika asal Bengal. Ia melakukannya lewat perhitungan
trigonometrik pada 1852 dengan menggunakan teodolit di India dari
jarak 150 mil.
Ketika pertama kali diukur pada 1856, Mount Everest tercatat setinggi
8.839 meter di atas permukaan laut. Lalu, direvisi lagi menjadi 8.840
meter atau 29.002 kaki. Tambahan 0,6 meter atau 2 kaki itu
menunjukkan, di masa itu ketinggian yang tepat akan dianggap sebagai
perkiraan yang dibulatkan.
Sementara perkiraan umum yang digunakan saat ini diperoleh melalui
bacaan Sistem Posisi Global (GPS). Gunung Himalaya, misalnya, masih
terus bertambah tinggi akibat pergerakan lempeng tektonik kawasan itu.
Siapa penakluk pertama puncak Everest?
Sejarah mencatat ada dua orang yang pada 29 Mei 1953 melakukan
pendakian. Keduanya adalah Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.
Jadi, pada 29 Mei 2008 yang baru saja lewat, prestasi itu genap
berusia 55 tahun.
Sejak itu, orang-orang sibuk mengukir prestasi terkait Everest. Begitu
banyak manusia yang tercatat sebagai `pertama'.
Junko Tabei asal Jepang, misalnya, adalah pendaki wanita pertama yang
mendaki pada 15 Mei 1975. Sedangkan pendakian tanpa oksigen pertama
dilakukan Reinhold Messner dan Peter Habeler pada 8 Mei 1978.
Pendakian menuju puncak Everest biasanya membutuhkan waktu lebih dari
20 jam untuk orang normal. Tapi, beberapa dari mereka mencatatkan
waktu terbaik yang hingga kini belum terpecahkan rekornya.
Babu Chhiri Sherpa adalah pendaki tercepat dari sisi Selatan. Catatan
waktunya 16 jam 56 menit pada 21 Mei 2000. Dari sisi Utara, rekor
dipegang Hans Kammerlander pada 24 Mei 1996. Ia membukukan waktu 16
jam 45 menit.
Di sisi lain, Temba Tsheri tercatat sebagai pendaki termuda. Ia
mendaki pada 22 Mei 2001, ketika usianya baru 15 tahun. Sebaliknya,
Sherman Bull yang berusia 64 tahun tercatat sebagai pendaki tertua.
Yang juga menakjubkan adalah Erik Weihenmeyer. Ia adalah tuna netra
pertama sukses mendaki Everest pada 25 Mei 2001.
Tahun terbaik dalam sejarah pendakian Everest adalah 1993. Ada 129
pendaki mencapai puncaknya. Tahun terburuk Everest adalah 1996
menyusul kematian 15 pendakinya.
Total, pada akhir musim mendaki 2007, tercatat 3.679 pendakian menuju
puncak dilakukan oleh 2.436 orang. Jumlah korban tewas mencapai 210
orang. Sebagian di antara korban ditinggalkan di lokasi akibat
kesulitan evakuasi.
Pendaki Everest bervariasi, mulai yang profesional sampai pemula yang
menyewa pembina untuk memandu. Ini berarti, para pendaki adalah sumber
devisa yang cukup besar bagi Nepal dan Tibet.
Pemerintah kedua negara menetapkan turis pendaki harus merogoh kocek
US$ 25.000 per kepala untuk izin mendaki. Izin ini adalah ketentuan
yang wajib dilengkapi para pendaki, selain hasil tes kesehatan dan
kelengkapan mendaki.
Waktu pendakian terbaik adalah Mei atau sebelum musim panas muson,
ketika angin bertiup ke arah Utara sehingga kecepatan angin di gunung
berkurang. Calon pendaki sebaiknya berkonsultasi dulu kepada para
pendaki ahli yang ada di lokasi. Waspadalah terhadap longsor es,
penyebab kematian terbesar di Everest.
wah..wah..kapan yah bisa kesanah??
hehe...
Pendaki Termuda red:Musa
Baru berumur delapan tahun dan tinggi badannya hanya 1,2 meter, tapi
Aidan Gold sudah bisa disejajarkan dengan para pendaki gunung kawakan.
Sebab, ia telah menaklukkan puncak Cascade, Alpen, dan Himalaya.
"Salju di sini lebih tebal daripada di Gunung Rainier (Cascade)
meskipun terdapat tanaman," kata Gold sambil menunjuk foto Puncak
Island di Himalaya. Aidan mendaki puncak berketinggian di atas 6000
meter itu bersama ayahnya dan beberapa pemandu, November. Menurut para
anggota Nepal Mountaineering Association, Aidan mungkin orang termuda
yang mencapai puncak tersebut.
Pendakian di Himalaya adalah puncak dari petualangan keluarga selama
empat bulan yang dilakukan dari Swiss ke Katmandu. Aidan dan ayahnya
juga mencapai puncak Haustock setinggi 3.172 meter, Puncak Monch di
Alpen setinggi 4.087 meter, dan Puncak Awi dekat Everest setinggi
5.246 meter.
Menurut Aidan, jalur pendakian tersulit adalah daerah berbatu dan
bersalju di Haustock dengan kemiringan 45 derajat. "Perjalanan 900
meter yang paling berat," katanya.
Tantangan ini adalah usaha yang dilakukan ayahnya untuk memberikan
apresiasi tentang bagian dunia yang hanya dikunjungi segelintir orang
kepada anak-anaknya. "Campuran antara penasaran dan petualangan,
itulah yang Anda rasakan saat mencapai puncak," kata associate
professor ekologi dan ilmu lingkungan di Universitas
Washington-Bothell itu. Istrinya, Julia, ikut menemani Gold melakukan
penelitian ekologi pada daerah ketinggian. Begitu juga anak keduanya,
Janick (5).
Aidan menyukai pendakian ini sebagai petualangan dan menikmati
pemandangannya. "Aku kedinginan dua kali waktu di Nepal, tapi tidak
sekalipun waktu di Swiss," kata Aidan, "Pagi hari di ketinggian 5.000
meter dingin lho."
Autisme
Pengalaman pertama mendaki gunung dilakukannya pada usia 3 tahun di
Gunung Si, dekat North Bend. Menurut orang tuanya, Aidan memiliki
fokus yang tidak wajar, bersemangat, dan tidak mudah bosan dengan
kegiatan monoton dan jangka panjang seperti mendaki gunung.
Kelainan tersebut disebabkan sindrom Asperger, salah satu bentuk
autisme yang diketahui sejak Aidan berusia 3 tahun. Orang yang
menderita autisme umumnya memiliki fokus yang berlebihan sehingga
tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Ia berkembang menjadi seorang pencerita, mengarang cerita sendiri dan
menceritakannya keras-keras. Bahkan ia sempat menjadi pemenang pada
lomba mendongeng di Teater Paramount, Seattle.
Ia juga memiliki minat yang besar dalam merangkai origami, ketrampilan
melipat kertas ala Jepang. Pohon Natalnya yang lalu juga dipenuhi
origami, sebagian dari bentuk yang ada di buku dan sebagian lagi ide
orisinilnya. Kecintaannya yang lain, mendaki gunung, bisa jadi hobi
yang paling beresiko meskipun tetap disalurkan kedua orang tuanya.
Sebab, ia telah menaklukkan puncak Cascade, Alpen, dan Himalaya.
"Salju di sini lebih tebal daripada di Gunung Rainier (Cascade)
meskipun terdapat tanaman," kata Gold sambil menunjuk foto Puncak
Island di Himalaya. Aidan mendaki puncak berketinggian di atas 6000
meter itu bersama ayahnya dan beberapa pemandu, November. Menurut para
anggota Nepal Mountaineering Association, Aidan mungkin orang termuda
yang mencapai puncak tersebut.
Pendakian di Himalaya adalah puncak dari petualangan keluarga selama
empat bulan yang dilakukan dari Swiss ke Katmandu. Aidan dan ayahnya
juga mencapai puncak Haustock setinggi 3.172 meter, Puncak Monch di
Alpen setinggi 4.087 meter, dan Puncak Awi dekat Everest setinggi
5.246 meter.
Menurut Aidan, jalur pendakian tersulit adalah daerah berbatu dan
bersalju di Haustock dengan kemiringan 45 derajat. "Perjalanan 900
meter yang paling berat," katanya.
Tantangan ini adalah usaha yang dilakukan ayahnya untuk memberikan
apresiasi tentang bagian dunia yang hanya dikunjungi segelintir orang
kepada anak-anaknya. "Campuran antara penasaran dan petualangan,
itulah yang Anda rasakan saat mencapai puncak," kata associate
professor ekologi dan ilmu lingkungan di Universitas
Washington-Bothell itu. Istrinya, Julia, ikut menemani Gold melakukan
penelitian ekologi pada daerah ketinggian. Begitu juga anak keduanya,
Janick (5).
Aidan menyukai pendakian ini sebagai petualangan dan menikmati
pemandangannya. "Aku kedinginan dua kali waktu di Nepal, tapi tidak
sekalipun waktu di Swiss," kata Aidan, "Pagi hari di ketinggian 5.000
meter dingin lho."
Autisme
Pengalaman pertama mendaki gunung dilakukannya pada usia 3 tahun di
Gunung Si, dekat North Bend. Menurut orang tuanya, Aidan memiliki
fokus yang tidak wajar, bersemangat, dan tidak mudah bosan dengan
kegiatan monoton dan jangka panjang seperti mendaki gunung.
Kelainan tersebut disebabkan sindrom Asperger, salah satu bentuk
autisme yang diketahui sejak Aidan berusia 3 tahun. Orang yang
menderita autisme umumnya memiliki fokus yang berlebihan sehingga
tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Ia berkembang menjadi seorang pencerita, mengarang cerita sendiri dan
menceritakannya keras-keras. Bahkan ia sempat menjadi pemenang pada
lomba mendongeng di Teater Paramount, Seattle.
Ia juga memiliki minat yang besar dalam merangkai origami, ketrampilan
melipat kertas ala Jepang. Pohon Natalnya yang lalu juga dipenuhi
origami, sebagian dari bentuk yang ada di buku dan sebagian lagi ide
orisinilnya. Kecintaannya yang lain, mendaki gunung, bisa jadi hobi
yang paling beresiko meskipun tetap disalurkan kedua orang tuanya.
Wednesday, September 17, 2008
Info...!!
Saya dapet info via sms dari Sandy (JW18), isinya :
"Maret JW temu kangen. Sampaikan pesan ini ke JW yang lain. MARI KITA SUKSESKAN MOMENT INI. Sms kan nomer JW yang temen tau ke nomer 081322874874. Tunggu info selanjutnya"
Setelah saya konfirmasi ternyata Rudy Praja yang punya ide.... Salut buat Rudy Praja....Mudah-mudahan sukses lah acara teh, amien....
Jaya,
Bitoenk JW.99.0208.CA
"Maret JW temu kangen. Sampaikan pesan ini ke JW yang lain. MARI KITA SUKSESKAN MOMENT INI. Sms kan nomer JW yang temen tau ke nomer 081322874874. Tunggu info selanjutnya"
Setelah saya konfirmasi ternyata Rudy Praja yang punya ide.... Salut buat Rudy Praja....Mudah-mudahan sukses lah acara teh, amien....
Jaya,
Bitoenk JW.99.0208.CA
Tuesday, June 24, 2008
FMI Canangkan Pendakian Tujuh Puncak Gunung Tertinggi Dunia
FMI Canangkan Pendakian Tujuh Puncak Gunung Tertinggi Dunia
Sumber : Jakarta (ANTARA News),2008 - Federasi Mounteneering Indonesia (FMI) mencanangkan pendakian tujuh puncak tertinggi di dunia untuk mencatatkan prestasi bangsa Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki pendaki tujuh gunung tertinggi di dunia."Kita ingin bangsa Indonesia menjadi negara yang mempunyai pendaki tujuh gunung tertinggi dan menyejajarkan diri dengan bangsa lain yang telah maju dari sisi mounteneering," kata Ketua Umum FMI Jody Alexander Tirie didampingi pendaki utama Franky Kowass dan Pengembangan Destinasi Pariwisata Firmansyah Rahim di Balairung Sapta Pesong Gedung Depbudpar Jakarta, Rabu.Jody mengatakan, program yang diberi nama "Ekspedisi Indonesia Mendaki tujuh Puncak Tertinggi 2008 - 2009" atau "Indonesian 7 Summit Expedition 2008-2009" ini juga untuk memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional dan mendukung program Tahun Kunjungan Wisata Indonesia atau Visit Indonesia Year 2008.Dia mengatakan, Indonesia yang memiliki puncak Cartenz Pyramid di Papua dan negara yang memiliki rangkaian pegunungan dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia yaitu 240 gunung api (13 persen dari total gunung api di dunia), hingga saat ini belum pernah melakukan ekspedisi pendakian ke tujuh puncak tertinggi.Ketujuh puncak tertinggi itu yaitu Puncak Everest (8.850 meter di atas permukaan laut/mdpl) di Nepal/Tibet yang mewakili Benua Asia, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan), Gunung McKinley/Denali (6.194 mdpl) Alaska (Amerika Utara), Gunung Kilimanjaro (5.963 mdpl) Tanzania (Benua Afrika), Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Elisworth Range (Benua Antartika) dan Puncak Cartenz Pyramid (4.884) di Papua Indonesia (Benua Australasia/Oceania).Jody mengatakan, di kalangan pendaki gunung dunia, pencapaian tujuh puncak tertinggi dunia merupakan suatu prestasi besar dan impian, serta pengakuan terhadap profesionalisme di bidang mendaki gunung.Tim Ekspedisi FMI terdiri atas lima orang pendaki yaitu satu orang pendaki utama yaitu Franky Kowass yang harus menyelesaikan pendakian secara penuh, satu pendaki pendamping yang disertakan secara bergantian di setiap gunung dan tiga orang tim base camp untuk mengawasi pendakian, bisa berasal dari kalangan pendaki gunung atau wartawan.Jody mengatakan, ekspedisi akan dimulai dari akhir Maret 2008 hingga September 2009 atau butuh waktu 219 hari untuk mendaki tujuh gunung tertinggi dengan urutan pendakian mulai dari Gunung Kilimanjaro (17 hari pendakian), McKinley pada April-Mei (15 hari), Carstensz Pyarmid pada Juni 2008 (15 hari), Gunung Elbrus pada Juli-Agustus 2008 (14 hari), Gunung Vinson Massif pada November - Desember 2008 (21 hari), Aconcagua pada Januari - Februari 2009 (21hari) dan Everest melalui sisi utara pada Maret - Juni 2009 (68 hari).Untuk pendakian ke Puncak Everest, Tim Ekspedisi FMI akan mendaki dahulu ke Cho Oyu (8.201 mdpl) di pegunungan Himalaya pada Agustus - Oktober 2008 (41 hari) untuk penyesuaian terhadap ketinggian (aklimatisasi).Mengenai pendanaan, Jody mengatakan, ekspedisi ini akan membutuhkan dana sampai miliaran rupiah, akan tetapi dia menolak merincinya."Biayanya sekitar sembilan digitlah," kata Jody singkat dan menambahkan pendanaan berasal dari berbagai pihak termasuk sponsor dan donatur.Ketika ditanya mengenai pemilihan Franky Kowass sebagai pendaki utama, Jody mengatakan, Franky mempunyai kemampuan dan terutama tekad yang kuat untuk bisa menjadi seven summiters selain dia merupakan anggota FMI."Selain itu dia juga berprofesi sebagai pendaki gunung yaitu sebagai pemandu pendaki Carstensz Pyramid yang telah dia daki 15 kali," kata Jody.Franky Kowass mengatakan, dirinya ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi pendaki tujuh puncak tertinggi di dunia.Sejak dicetuskan pada 1976 hingga saat ini baru sekitar 150 orang pendaki puncak tertinggi di dunia dari 33 negara di seluruh dunia, enam merupakan negara Asia yaitu Jepang, Cina, Korea Selatan, Singapura, Kuwait dan India.Sementara itu, sesepuh pendaki gunung Indonesia yang juga pendiri Mapala UI, Herman O Lantang yakin Franky dapat mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia itu."Saya yakin Franky akan sukses karena saya melihat tekad yang kuat dari dia," kata Herman. (*)
Himawan, Pendaki Gunung Tertua di Indonesia
13/04/2008 12:44 SosokHimawan, Pendaki Gunung Tertua di Indonesia
Liputan6.com, Cimahi:
Usia senja kerap diidentikan dengan sosok tua renta. Namun berbeda dengan Himawan Tedjomulyono. Di usia 72 tahun, tak menghalanginya untuk terus mendaki gunung. Pepatah tua-tua keladi mungkin menjadi ungkapan yang pas menggambarkan Himawan.
Tiap hari, Himawan olahraga jalan kaki. Bersama kawan dan tetangganya, setidaknya 10 kilometer ia jalani menyusuri daerah pegunungan. Acapkali ia mengajak warga sekitar terutama anak-anak untuk ikut berjalan kaki.
Selain dikenal ramah, Himawan juga selalu gemar bercanda dan selalu menggelorakan semangat pada anak muda. Sosok Himawan di mata temanya adalah lelaki yang tegas tetapi selalu memberikan inspirasi serta motivasi.
Mendaki gunung bukan sekadar menyalurkan hobi olahraga, tetapi ada makna filosofi kehidupan di baliknya. Filosofi inilah yang selalu menjadi alasan Himawan kembali mendaki gunung walau usianya lebih dari 70 tahun.
Sebanyak 29 gunung di Tanah Air telah didaki oleh Himawan dan kawan-kawannya. Petualangan Himawan mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) yang mencatatkan dirinya sebagai pendaki gunung tertua di Indonesia.
Menjaga kebugaran dan meramu makan selalu dilakukan Himawan. Di usia senja, Himawan berencana kembali menaklukan Gunung Kerinci. Saat ini bukan umur yang menjadi halangan melainkan biaya. Kini dia mencari sponsor untuk membuktikan usia tua, bukanlah penghalang manusia meraih harapan dan cita-cita.(JUM/Wendy Surya)
Liputan6.com, Cimahi:
Usia senja kerap diidentikan dengan sosok tua renta. Namun berbeda dengan Himawan Tedjomulyono. Di usia 72 tahun, tak menghalanginya untuk terus mendaki gunung. Pepatah tua-tua keladi mungkin menjadi ungkapan yang pas menggambarkan Himawan. Tiap hari, Himawan olahraga jalan kaki. Bersama kawan dan tetangganya, setidaknya 10 kilometer ia jalani menyusuri daerah pegunungan. Acapkali ia mengajak warga sekitar terutama anak-anak untuk ikut berjalan kaki.
Selain dikenal ramah, Himawan juga selalu gemar bercanda dan selalu menggelorakan semangat pada anak muda. Sosok Himawan di mata temanya adalah lelaki yang tegas tetapi selalu memberikan inspirasi serta motivasi.
Mendaki gunung bukan sekadar menyalurkan hobi olahraga, tetapi ada makna filosofi kehidupan di baliknya. Filosofi inilah yang selalu menjadi alasan Himawan kembali mendaki gunung walau usianya lebih dari 70 tahun.
Sebanyak 29 gunung di Tanah Air telah didaki oleh Himawan dan kawan-kawannya. Petualangan Himawan mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) yang mencatatkan dirinya sebagai pendaki gunung tertua di Indonesia.
Menjaga kebugaran dan meramu makan selalu dilakukan Himawan. Di usia senja, Himawan berencana kembali menaklukan Gunung Kerinci. Saat ini bukan umur yang menjadi halangan melainkan biaya. Kini dia mencari sponsor untuk membuktikan usia tua, bukanlah penghalang manusia meraih harapan dan cita-cita.(JUM/Wendy Surya)
Franky Kowaas, The Seven Summits
Rabu, 18 Juni 2008 08:43 WIB
JAKARTA, RABU - Petualangan Franky Kowaas, 46, yang ingin menggapai tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua terus berlanjut. Keinginan pria asal Manado ini untuk menancapkan sang saka merah putih pada masing-masing puncak gunung bukan cuma sesumbar.
Dua puncak gunung dari tujuh yang direncanakan bisa dijadikan bukti yakni Carstensz Pyramid dan Kilimanjaro. Carstensz Pyramid yang berlokasi di Indonesia (Papua) merupakan representasi puncak gunung tertinggi di Benua Australasia/Oceania, sedangkan Kilimanjaro yang berlokasi di Tanzania merupakan representasi Benua Afrika.
Franky telah menggapai kedua puncak gunung tersebut yang memiliki ketinggian masing-masing 4.884 mdpl dan 5.963 mdpl dalam rangkaian misi pendakian yang dilakoninya saat ini.Bahkan sebagaimana dituturkan ayah dua anak ini, puncak Kilimanjaro bisa dicapainya lebih cepat dari waktu tempuh yang telah ditentukan yakni enam hari. "Mulai dari pintu masuk (awal pendakian) sampai puncak itu butuh empat hari," ujar Franky saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/7).
Awal yang bagus tentunya. Sayang, niat baik suami Nanvie Tagah ini sedikit terganjal saat ingin melanjutkan petualangannya menggapai puncak gunung Denali atau Mckinley, gunung ketiga yang coba ditaklukannya. Karena belum keluarnya visa, ekspedisi Franky yang didukung sepenuhnya oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) yang direncanakan berlangsung dalam bulan Juli itu tertunda hingga 2009. "Rencana bulan Juni mau ke McKinley, tapi karena masalah visa nggak jadi dan ditunda sampai akhir Mei 2009," ujarnya.
Sambil menunggu pendakian gunung berikutnya yakni Mount Elbrush yang direncanakan berlangsung pada Agustus, Franky menyempatkan diri coba mengharumkan nama Sulawesi Utara dengan keterlibatannya dalan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan berlangsung Juli nanti."Kebetulan saya juga adalah ketua sekaligus atlit terjun payung yang mewakili Sulawesi Utara. Jadi saya coba partisipasi di PON dulu," ujar Franky.
Ditanya apakah keterlibatannya dalam pentas olahraga bergengsi tingkat nasional tersebut bisa mempengaruhi persiapannya melakukan pendakian pada gunung berikutnya, Franky mengatakan itu bukan persoalan. Dilihat dari waktunya, Franky memang punya cukup kesempatan dalam persiapan mendaki gunung Elbrush pasca keikutsertaannya dalam PON yang rencananya akan berlangsung 6 hingga 11 Juli tersebut. "Rencananya awal Agustus baru ke Rusia. Targetnya pada 17 Agustus nanti, saya berada di puncak Elbrush," ujar Franky.
Gunung Elbrush yang berlokasi di Rusia dengan ketinggian 5.642
mdpl merupakan representasi puncak gunung tertinggi di benua Eropa. Saat jutaan anak bangsa merayakan hari bersejarah Indonesia di bumi pertiwi ini, Franky ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya seorang calon seven summiters (pendaki gunung yang telah mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua) saat menancapkan merah putih di puncak Elbrush.
mdpl merupakan representasi puncak gunung tertinggi di benua Eropa. Saat jutaan anak bangsa merayakan hari bersejarah Indonesia di bumi pertiwi ini, Franky ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya seorang calon seven summiters (pendaki gunung yang telah mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua) saat menancapkan merah putih di puncak Elbrush.Everest Dituutp Demi Olimpiade
Lingkungan Hidup Demi Obor Olimpiade, Everest Ditutup bagi Umum
KabarIndonesia - Untuk menghindari aksi protes selama obor Olimpiade mendaki gunung tertinggi di dunia, pemerintah Nepal menutup jalan ke gunung, bahkan melarang wartawan asing datang ke pos pendakian.Pemerintah Cina mendatangkan sekitar 30 jurnalis ke posko pendakian awal di Tibet, guna memberitakan pendakian obor Olimpiade ke puncak Gunung Everest. Nepal sebaliknya, tidak menginginkan puncak gunung tertinggi di dunia itu terbuka bagi publik. Puncak Everest akan dilindungi. Para pendaki tidak boleh menggunakan telepon satelit. Tim liputan dari sebuah stasiun televisi, ditolak. Koresponden BBC Charles Haviland mengatakan, beberapa jam setelah ia sampai di posko pendakian awal, base camp Everest, Senin (28/04), ia dipaksa turun oleh aparat Nepal. Tak boleh merekam suara atau gambar, tak boleh ada pembicaraan apapun di posko pendakian, kecam Haviland. Beberapa hari sebelumnya, Duta Besar Cina untuk Nepal mengunjungi posko tersebut bersama militer Nepal, untuk mengamati situasi keamanan.Haviland mengatakan, "Pemerintah Cina betul-betul menekan Nepal, agar tidak membiarkan keributan terjadi di Everest sisi Nepal, selama obor Olimpiade dibawa mendaki Everest sisi Cina."Sampai tanggal 10 Mei tidak seorangpun boleh memasuki Everest dari sisi Nepal, 200 meter sampai ke puncak. Dalam kurun waktu itulah obor Olimpiade melewati gunung Everest. Nepal sudah memperkuat aparat keamanannya. Juga dengan polisi yang berpengalaman soal ekspedisi, kata Raj Dotel, juru bicara Kementrian Dalam Negeri. Berapa jumlah personil yang dikerahkan, tidak ia sebut dalam wawancara dengan radio Jerman ARD. Dan tindakan apa yang menanti demonstran? Raj Dotel mengatakan, "Aparat keamanan bisa saja menggunakan kekerasan, jika diperlukan. Tapi pemerintah Nepal memerintahkan, untuk hanya melakukan kekerasan minimal. Kami sudah menegaskan, tidak ada perintah untuk melepaskan tembakan. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk tidak melanggar hukum. Dan kami tidak mengharapkan demonstrasi."Tapi insiden pertama sudah terjadi. Pekan lalu seorang pendaki gunung asal Amerika Serikat ditemukan membawa spanduk pro-Tibet di Everest. Aparat keamanan Nepal lalu menahannya. Ia kemudian diusir dari Nepal dan dikenai larangan mendaki gunung di Nepal selama dua tahun.
Zimba Zangbu Sherpa, ketua perhimpunan pendaki gunung Nepal mengatakan, "Kejadian ini membuat kami semua tegang. Tampaknya ini peringatan bagi orang-orang yang ingin memnfaatkan peristiwa ini untuk menyampaikan sikap politik mereka. Saya yakin, tindakan pencegahan keamanan sekarang lebih ketat. Karena sangat mungkin, ada banyak orang yang punya keinginan itu."Politik dan olahraga seharusnya tidak dicampuraduk, kata Sherpa. Namun, pekan-pekan lalu banyak eksil Tibet berdemonstrasi di Nepal, terutama di ibukota Kathmandu, memprotes obor Olimpiade dan politik Cina terhadap Tibet. Ratusan demonstran dipukuli polisi dan ditahan. Karena itu tak ada seorangpun yang mau buka mulut tentang aksi apa yang akan digelar di Gunung Everest. Para eksil Tibet juga tidak. Seorang di antara mereka mengatakan, "Kami tidak merencanakan apa-apa. Semua protes dan demonstrasi tergantung pada situasi dan lokasi. Seluruh dunia mengarahkan pandangan ke Cina. Karena itu kami menggunakan kesempatan ini sekarang. kesempatan emas seperti ini hanya datang sekali seumur hidup." (rp).
Sumber: Oleh : Redaksi-kabarindonesia [www.kabarindonesia.com] Deutsche Welle
Resensi Buku Mountain Climbing for Everybody:
Resensi Buku: Panduan Terlengkap Seri Pendakian Gunung di IndonesiaOleh : Wahyu Ari Wicaksono 02-Jan-2008, 23:31:18 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Judul Buku: Mountain Climbing for Everybody: Penulis: Harley Bayu SasthaJumlah Halaman: 302 hlmPenerbit: HikmahHarga: Rp 49500.00
Judul Buku: Mountain Climbing for Everybody: Penulis: Harley Bayu SasthaJumlah Halaman: 302 hlmPenerbit: HikmahHarga: Rp 49500.00
KabarIndonesia - Indonesia adalah negara yang kaya akan gunung berapi. Letaknya secara geografi yang ada di antara pertemuan tiga lempeng: lempeng Pasific, Indo-Australia, dan Eurasia ditambah lagi sebagai jalur The Pasific Ring of Fire membuat Indonesia memiliki 240 gunung berapi dengan 70 di antaranya yang masih aktif. Hal ini tentu saja merupakan pemikat tersendiri bagi banyak pendaki lokal maupun internasional untuk menjelajahinya. Sayangnya, minim sekali panduan tertulis yang telah ada, bahkan dikalangan para pendaki itu sendiri. Padahal mendaki gunung adalah merupakan salah satu olahraga yang sangat beresiko. Akibatnya, tidak jarang banyak ekspedisi pendakian yang menelan korban hanya dikarenakan oleh persiapan yang tidak sesuai dengan meda yang hendak dituju. Untungnya Harley Bayu Sastha, penulis sekaligus pendaki ini segera menyadari kelemahan tersebut. Ia benar-benar mampu merasakan betapa butanya para pendaki pemula dalam melakukan ekspedisinya jika tidak dipandu guide saat melakukan pendakian. Terpicu oleh fenomena tersebut, maka buku ini dituliskan sebagai panduan bagi para pendaki tersebut. Dituliskan secara detail dengan data-data yang komplit dan sarat pengalaman pribadi, ia berharap buku ini akan bisa membantu mereka yang hendak menapak salah satu puncak dunia yang ada di Indonesia.Akhirnya Harley mampu mengelarkan sebuah buku panduan mendaki gunung-gunung di Indonesia yang dibuat berseri, yang di awali dari 9 gunung di Jawa Barat. Tidak tanggung-tanggung, buku ini dilengkapi dengan informasi singkat, persiapan dan tips seputar pendakian gunung. Sejarah singkat dan wisata alam pegunungan Jawa Barat. Jalur pendakian di gambarkan berdasarkan pengalaman pribadi diperkuat dengan literatur data dari berbagai sumber. Setiap jalur pendakian dilengkapi dengan tips perjalanannya masing-masing. Juga di lengkapi dengan berbagi informasi perijinan, gambaran biaya menuju lokasi, fasilitas serta akomodasi pada setiap pintu masuk jalur pendakian serta berbagai tempat menarik di sekitarnya. Sebagai pelengkap di gambarkan Peta Tulang Rute Pendakian masing-masing gunung. Setiap bagian gunung di batasi oleh foto besar wilayah masing-masing gunung. Foto-foto sebagai pelengkap di tampilkan secara galery dan berwarna sehingga lebih menarik dan terlihat keindahan wilayah pegunungannya.Menyadari bahwa banyak buku pengetahuan yang akhirnya terjerumus pada penampilan yang membosankan, agar tidak membosankan buku ini oleh penerbitnya dilayout semenarik mungkin. Sebagai pemanis, disisipkan juga tiga buah puisi karya penulis yang berisi tentang kekaguman penulis terhadap pegunungan Indonesia yang begitu menakjubkan.Kualitas isi dan desain buku ini benar-benar pantas dibanggakan. Tak heran jika akhirnya Herman O. Lantang, tokoh legendaris dalam dunia pencinta alam di Indonesia yang juga merupakan salah seorang pendiri MAPALA UI, mau memberikan tulisannya sebagai kata pengantar.Tak cuma Herman, Don Hasman, petualang alam bebas sekaligus fotografer alam senior yang pernah mengukirkan namanya sebagai orang Indonesia pertama yang ke Himalaya pun juga turut memberikan pujiannya bahwa buku ini merupakan salah satu panduan mendaki gunung yang memadai dalam beraktifitas di alam.Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

