National Geographic
Nyalindung, Burangrang
Lokasi SMA 2 Cimahi
Friday, November 29, 2013
Wednesday, February 15, 2012
KERANGKA ACUAN JW 30TH
SILAHKAN DOWNLOAD DI : http://www.4shared.com/file/6_kOadDF/KERANGKA_ACUAN.html
Saturday, August 22, 2009
Dimana pecinta alam saat ini??
Secara umum orang tahu pecinta alam, mereka adalah orang yang suka atau punya hobi naik gunung dengan rambut gondrong, pakaian, aksesoris yang khas menandakan seorang pecinta alam. Sayangnya opini yang menempel pada diri PA ini lebih menjurus pada konotasi yang negative, ini lebih karena sering terjadinya praktek-praktek vandalisme di gunung, tempat wanawisata bahkan dipuncak gunung sekalipun ada coretan-coretan iseng.
Terlepas dari apakah ini perbuatan seorang pecinta alam atau hanya kebetulan orang yang iseng saja yang naik gunung membawa spidol atau cat semprot. Karena sulit membedakan antara pecinta alam asli yang peduli alam dan lingkungannya atau hanya pecinta alam gadungan yang hanya menempelkan nama kerennya saja, anggapan pun semakin luas terhadap perilaku sosial yang tidak terpuji seperti membuat kegaduhan di tengah malam dengan teriak-teriak bahkan lebih kaget lagi adalah sering ditemukannya berbagai macam sampah sampai kondom sekalipun di Taman Wisata Kaliurang, ini siapa lagi kalau bukan orang yang sering main ke gunung.
Terlepas dari konotasi negative tadi, pecinta alam mempunyai satu posisi yang sangat penting perannya dalam membina generasi muda untuk kepedulian terhadap alam ini seperti bisa kita lihat kegiatan-kegiatan penghijauan di lereng Merapi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam di Yogyakarta atau aksi bersih kali oleh beberapa pecinta alam di Bandung beberapa bulan. Ini menandakan adanya satu persepsi yang masih belum diketahui oleh kebanyakan orang tentang kegiatan pecinta alam yang tidak saja berkutat di acara mendaki gunung.
Namun dalam tataran politik lingkungan pecinta alam cenderung apolitis dalam tataran gerakan lingkungan secara keseluruhan pecinta alam belum memperlihatkan sebuah sinergi gerakan yang dinamis, sepertinya belum ada satu pemikiran taktis gerakan pecinta alam dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan.
Lebih jauh lagi pada peran mahasiswa pecinta alam, masih sedikit aksi-aksi advokasi dari para mahasiswa pecinta alam untuk masalah lingkungan. Ini terkesan apatis untuk melakukan advokasi bagi korban pencemaran lingkungan atau penolakan untuk rencana pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan. Ambilah salah satu contohnya di Yogyakarta, ditengah maraknya isu pembangungan kawasan konservasi air dan hutan oleh Pemkot, Jalan Lintas Selatan yang melewati kawasan hutan yang masih alami, Taman Nasional Gunung Merapi, Safir Square , Plaza Book UGM, Pelabuhan ika di Pantai Glagah yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Ketentuan kebijakan lingkungan mengenai Tata Ruang, AMDAL, UU No 23 taqhun 1997, Transparansi dan Akuntabilitas public. Mahasiwa pecinta alam atau kelompok pecinta alam lainnya terkesan acuh tak acuh tidak mau peduli mengkritisinya.
Dikutip dari satu catatan Gerlorfd Nelson senator Amerika tahun 1970 yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech of Illionis tahun 1990, ia mengatakan “ jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan-kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pecinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan, jika anda ingin mempunyai Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi yang akan datang, kita yakin anda dapat melakukannya“.
Catatan ini yang menjadi dasar untuk bergerak dalam wacana lingkungan melawan kapitalisme global.Kini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk membangun sebuah sinergi gerakan dari para pecinta alam baik itu mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam ataupun kelompok – kelompok pecinta alam lainnya untuk masa depan lingkungan hidup karena masalah lingkungan adalah permasalahan bersama sehingga korelasi antara banyaknya pecinta alam dengan kelestarian alam ini dalam tanda positif bukan sebaliknya.“Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap”
ekspedisi Pegunungan Sudirman 2009 Mahasiswa Pecinta Alam (Mahitala) Universitas Parahyangan

Menurut Farli, Ketua Dewan Pengurus Mahitala Unpar, pencapaian puncak Idenburg meleset satu hari dari rencana semula yang targetnya tanggal 28 Januari. “Karena tim membutuhkan waktu recovery dulu,” ujarnya ditemui di Kampus Unpar, Jalan Ciumbuleuit, belum lama ini.
Tim ekspedisi dibagi tiga tim, yaitu tim Engea 1, Engea 2, dan Engea 3. Ada satu orang yang tak ikut mendaki. Dia menjadi penghubung antara tim pendaki dengan tim yang berada di kampus. Di kampus sendiri, ada sekitar empat orang.
Suhu, hujan dan kabut menjadi tantangan utama. Berdasarkan laporan yang diterima dari rekannya melalui email, cuaca di daerah Idenburg berubah-ubah. Jika malam tiba suhu dapat mencapai minus 1 derajat celcius. “Tidak sesuai dengan perkiraan semula,” ujar Farli.
Meski hujan mengguyur dan kabut tebal menyelimuti lembah Idenburg, tidak menyuruti tim ekspedisi untuk mencapai puncak Idenburg. Bahkan, beratnya medan yang penuh dengan tebing berwarna putih, membuat tim semakin bersemangat untuk menaklukan puncak Idenburg. Sesampainya mereka tiba di puncak Idenburg, mereka lalu mengibarkan bendera Merah Putih.
Farli, yang juga mahasiswa jurusan Arsitektur Unpar ini mengatakan lembah idenburg belum pernah dieksplorasi oleh orang Indonesia. Hanya Henrich Harrer, warga negara Austria yang pernah menyambangi Idenburg pada 1960, namun tidak mencapai puncak
Saturday, July 25, 2009
Kita Bisa belajar banyak dari Jayawijaya..meskipun itu sebuah kelemahan
1.Organisasi kita adalah multi karakter dengan latar belakang anggota yang kompleks dan terkesan "no action talk only" bukan Talk Less Do More...!
2.Kita masih punya rasa senioritas yang dijunjung tinggi sehingga jarak hubungan menjadi terhambat dan tersekat
3.Pengalaman organisasi yang menunjukkan kelompok senioritas yang lebih dominan, pengaruh yang kuat dan langgeng
4.Adanya sikap arogansi, pemaksaan kehendak dan kepentingan, smua untuk "prestige" dan hanya untuk kesenangan dan kepuasan kelompok tertentu
5.kelompok muda yang sering dijadikan sebagai `alat kerja' dan bukan sebagai pengambil keputusan "decision maker"
6.ada kecenderungan dimana kelompok muda sulit dan menghindari untuk diskusi, pertemuan dengan kelompok senior sehingga hal ini menggangu dan menghambat kegiatan di organisasi baik teknis dan non teknis. Kecenderungan itu terjadi karena adanya rasa takut dan segan sehingga menjadi malas dan timbul sikap acuh tak acuh
7.ga perlu dipungkiri loyalitas anggota terutama senior saya acungkan jempol, namun perlu kita sadari khususnya bagi kelompok muda bahwa waktu,tempat, tenaga dan pikiran nya sangat terbatas karena sudah bnayaknya kegiatan terutama kehidupan lebih lanjut, masa depan, pencarian nafkah/bekerja dan mengurus keluarga
8.secara tidak langsung di organisasi JW terbangun budaya dan pemahaman pada keompok muda bahwa masalah pada hakikatnya hanya diselesaikan oleh senior. Sehingga hal ini jelas adalah budaya yang kurang baik, sehingga setiap permsalahan yang ada kelompok muda tidak akan bisa berbuat banyak dan terbukti pada permalahan saat ini.